Sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi di Bunderan UGM pada Jumat, 13 Februari 2026. Dalam aksi tersebut, massa mengenakan pakaian berwarna pink sambil membawa panci untuk membuat bunyi-bunyian dan meneriakkan “Stop MBG sekarang juga”. Aksi yang diinisiasi oleh Ibu Berisik, Suara Ibu Indonesia, dan Jaringan Gusdurian Indonesia ini dihadiri aktivis, akademisi, ibu rumah tangga, dan mahasiswa. Kegiatan diawali dengan orasi bergantian dari sejumlah aktivis dan akademisi, di antaranya Rif'atunikmah, Khulil Khasanah, Arami Kasih, Heri, Jay Akhmad, Suci Lestari Yuani, Herlambang P. Wiratraman, Tiyo Ardiyanto, Yuniar Khairani, Masduki, Aisyah Hilal, dan AB Widyanta.
Orasi yang disampaikan dalam aksi tersebut secara umum menolak program MBG. Para orator menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kasus keracunan makanan, pemangkasan anggaran sektor lain untuk membiayai MBG, dampak keberadaan SPPG di lingkungan sekitar, hingga persoalan pemerataan akses dan infrastruktur. Senada dengan hal itu, Akhiriyati Sundari, seorang guru madrasah aliyah swasta yang menghadiri aksi tersebut, juga menyatakan penolakannya terhadap program MBG. “Teman-teman sesama guru juga menolak MBG, tetapi hanya sebatas omongan saja karena kami sebagai guru tidak bisa menolak ‘instruksi’ atasan,” ujar Akhiriyati.
Aksi kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bedah isi seporsi MBG yang terdiri dari kacang goreng, susu UHT 105 ml, sebutir apel, dan sepotong roti dengan total nilai sekitar Rp9.000. Pihak Ibu Berisik menunjukkan isi seporsi MBG tersebut sebagai bentuk kritik terhadap kualitas dan kelayakan program MBG. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto dan para pemangku kebijakan di Indonesia. “Untuk Presiden Prabowo Subianto, menteri-menteri, dan seluruh pelaksana kebijakan di negeri ini, bukakanlah mata hati mereka untuk melihat kenyataan di lapangan dengan sebenar-benarnya. Berikanlah mereka kejujuran untuk mengakui kekurangan dalam pelaksanaan kebijakan serta kebijaksanaan untuk mengambil langkah yang berpihak pada masyarakat,” ujar pemimpin doa dalam pembacaan doa penutup.
Acara ditutup dengan karaoke bersama yang dipimpin oleh Regina Gandes dan Gracesyera. Para peserta aksi berharap penolakan terhadap program MBG dapat semakin meluas dan mendorong pemerintah untuk lebih mendengarkan aspirasi masyarakat. Mereka menilai aksi-aksi semacam ini penting sebagai ruang bagi warga untuk berkumpul, berbagi pandangan, dan menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik. Selain itu, para peserta juga berharap semakin banyak anak muda terlibat dalam menyuarakan berbagai persoalan terkait program MBG sehingga diskusi mengenai kebijakan tersebut dapat berkembang lebih luas di masyarakat. “Dari aksi-aksi semacam ini harapannya pemerintah bisa dengar dan lebih melek, seperti yang disampaikan para orator tadi. Harapan saya juga ke anak-anak muda agar lebih berani menyuarakan penolakan terhadap MBG,” ujar Akhiriyati.



