Pada Kamis (05/02), Social Research Center (Sorec) bersama Departemen Sosiologi UGM, Initiatives in Critical Agrarian Studies (ICAS), Insist Press, Youth Studies Centre (YouSure), serta Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) menggelar diskusi peluncuran seri buku kajian petani dan perubahan agraria bertajuk “Krisis Regenerasi Petani Indonesia dan Aktivisme Agraria Transnasional”. Diskusi ini membedah buku karya Jun Borras dan Ben White dengan menghadirkan Amalinda Savirani, Pitra Hutomo, juga Oki Rahadianto Sutopo selaku pembahas
Dalam buku “Pertanian dan Masalah Generasi”, Ben White menggabungkan kajian agraria dan studi generasi dengan menyoroti isu gender, kelas, juga etnis. Ia menceritakan jika peralihan sumber daya agraria antar generasi, termasuk di Indonesia, selama ini telah berlangsung timpang. Temuannya menyebutkan bahwa sebagian besar generasi muda di Indonesia kini tidak memiliki akses terhadap tanah. Menanggapi persoalan ini, Ben mendorong pembukaan akses lahan bagi anak muda, pengembangan pertanian komersial, serta penciptaan lapangan kerja nonpertanian di kawasan perdesaan.
Merespons isu yang dipaparkan Ben, Oki Rahadianto Sutopo menilai persoalan akses tanah berkaitan dengan kondisi ketidakpastian (precarity) yang dihadapi generasi muda. Ia menyoroti ketatnya persaingan kerja yang mendorong sebagian pemuda untuk kembali bertani untuk membantu keluarga. Melalui konsep kerja-majemuk (pluriactivity) dan kerja lintas-tempat (plurilocality), Oki menilai Ben berhasil memperlihatkan bahwa kondisi precarity tidak hanya dialami petani muda, tetapi juga generasi muda secara umum. Termasuk di dalamnya kelas menengah yang rentan mengalami penurunan mobilitas sosial. Oki juga menganggap karya Ben memperkaya perdebatan mengenai persoalan generasi muda sebagai bentuk reproduksi sosial (continuity) dan perubahan sosial (change). Menurutnya, tulisan Ben mampu menghadirkan suara anak muda sebagai subjek, dan bukan sekadar objek dalam wacana defektologi.
Sementara itu, dalam buku “Aktivisme Cendekia & Perjuangan Agraria” Jun Borras mendefinisikan aktivisme cendekia sebagai sebuah praksis intelektual. Proses berpikir yang tidak hanya berhenti pada kapasitas memahami dunia, tetapi mampu mendorong perubahan sosial yang berkeadilan. Bersama Jennifer Franco, ia menuliskan pentingnya produksi pengetahuan yang setara melalui kolaborasi antara akademisi, aktivis, dan lembaga riset independen. Kolaborasi ini dinilai penting untuk menghindari dominasi peneliti atas gerakan (vanguardism) maupun sikap peneliti yang sekadar mengikuti gerakan (tailism).
Dalam buku “Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional” yang ditulis bersama Marc Edelman, Jun menempatkan gerakan seperti La Via Campesina sebagai aktor kunci dalam membangun kajian agraria kritis di era neoliberal. Ia juga menawarkan pendekatan “setengah penuh” (half full) dalam melihat gerakan sosial. Sebuah pendekatan yang menekankan pada capaian strategis tanpa mengabaikan keterbatasan internal gerakan itu sendiri.
Menanggapi paparan Jun, Amalinda Savirani menilai pendekatan “setengah penuh” memberi harapan bagi masyarakat untuk terus berserikat dan memperjuangkan keadilan. Ia juga melihat dinamika gerakan agraria memiliki kemiripan dengan gerakan sosial lain. Dalam konteks Indonesia, gerakan agraria perkotaan disebut mulai membingkai ulang tuntutan yang awalnya berkutat pada isu lahan pertanian menjadi hak atas perumahan bagi masyarakat miskin.
Pitra Hutomo menambahkan, gerakan agraria tidak bisa dilepaskan dari persoalan perampasan lahan. Ia menyebut para korban perampasan menanggung lima bentuk beban, yakni knowledge labor, bureaucratic labor, political labor, emotional labor, dan material labor. Menurutnya perjuangan agraria bukan hanya soal kehilangan tanah, tetapi juga kerja tambahan yang harus ditanggung korban untuk bertahan dan melawan. Pitra menilai pendekatan “setengah penuh” dan “setengah kosong” membantu melihat gerakan secara lebih seimbang. Ia menekankan bahwa sirkulasi pengetahuan tidak berhenti pada membaca buku, namun perlu dilanjutkan melalui diskusi kritis dan praktik sehari-hari bersama petani-petani lokal.




