Diskusi Publik dari SOREC bersama The Indonesia Institute dan Departemen Sosiologi UGM bertajuk “Kebebasan Akademik dalam Bayang Represi, Pembungkaman, dan Depolitisasi Negara”
16 September 2025
Membedah Politik Seksual serta Pelemahan Gerakan Perempuan di Indonesia
15 Januari 2026

Membaca Politik Kemarahan Pemuda, SOREC dan Departemen Sosiologi UGM Gelar Kuliah Umum

Social Research Center (Sorec) bersama Departemen Sosiologi UGM mengadakan kuliah umum dengan tajuk  “Angry Youth and The Politics of Outrage: Formasi Identitas, Tubuh, dan Aktivisme Digital Kaum Muda dalam Pusaran Algoritma Platform Media Sosial”. Acara ini diselenggarakan pada Kamis (18/09) dengan menghadirkan Arie Sudjito sebagai keynote speaker dan Heru Nugroho sebagai pengisi materi. Acara dimulai oleh Arie yang menekankan pentingnya pemuda sebagai agen perubahan yang memiliki caranya sendiri dalam berpolitik. “Dia adalah agen yang selalu hadir dia bisa mewarnai dalam sejarah kehidupan kita,” ucapnya.

Senada dengan Arie, Heru Nugroho juga menjelaskan bahwa meluasnya kemarahan para pemuda, terutama Gen Z terhadap pemerintah, saat ini bersifat global. Ia menambahkan jika kemarahan pemuda ini turut diamplifikasi oleh keberadaan media digital. Menurutnya, pemuda digambarkan lahir dalam lingkungan yang cair dan selalu menghadapi ketidakpastian dalam kehidupan sehari-harinya.“Ketidakpastian ekonomi, krisis iklim, dan disrupsi teknologi adalah udara yang mereka hirup”, terangnya.

Heru juga menjabarkan kondisi kemarahan pemuda di tiga negara yaitu Indonesia, Nepal, dan Perancis. Ia menyebut ketiga negara tersebut memiliki kesamaan dalam aksi-aksi yang dilakukan, yakni sama-sama dilatarbelakangi oleh krisis demokrasi dan ketidakpercayaan terhadap pemegang kekuasaan. Adanya simbol bersama yang menjadi ekspresi politik seperti bendera Jolly Roger yang berkibar di berbagai demonstrasi juga muncul karena adanya resonansi ekspresi politik. “Apakah ini koordinasi gitu? Tidak, ini resonansi”, Heru menegaskan.

Acara kemudian beralih ke sesi tanya jawab oleh peserta. Brandon, salah satu peserta, mengajukan pertanyaan terkait tuntutan 17+8 yang sempat ramai di media sosial. Ia mempertanyakan apakah dukungan terhadap tuntutan 17+8 didasarkan pada rasionalitas atau hanya paparan informasi dan konfirmasi yang seragam. Ia juga mempersoalkan kualitas informasi yang disampaikan oleh pemengaruh (influencer) dan inisiator gerakan. “Lalu, ketika itu–tuntutan–inisiasi, bagaimana kita menjaga quality control mengenai apa yang disampaikan oleh itu?” tuturnya.

 Heru menjawab bahwa saat ini manusia hidup di dalam era digital dan dipengaruhi oleh algoritma. Ia juga mengatakan bahwa saat ini kita sudah masuk ke dalam tahap kapitalisme pengawasan. Di mana kontrol algoritma tergantung dari cara pengguna menerima konten yang dihadirkan. “Bagaimana algoritma itu dibelokkan dengan permintaan-permintaan lain, algoritma itu kan juga tergantung dari input kita”, pungkas Heru.