
Peserta Youth Leadership Camp for Climate Crisis (YLCC) di Gunung Kidul, DIY Yogyakarta, 11-13 Juli 2025.
Di tengah bayang-bayang krisis iklim yang kian berdampak, setitik harapan muncul dari pesisir Sidoharjo, Tepus, Gunungkidul. Pada 11-13 Juli 2025, Youth Leadership Camp for Climate Crisis (YLCCC): Blue Food Camp sukses diselenggarakan. membawa pulang oleh-oleh penting mengenai tantangan krisis iklim dan potensi pangan biru berbasis komunitas pesisir. Acara ini merupakan kolaborasi nyata antara Climate Reality Indonesia, Departemen Sosiologi, dan Social Research Center Universitas Gadjah Mada (UGM), yang didukung oleh Laboratorium Ekologi dan Konservasi Fakultas Biologi UGM, serta bekerja sama dengan Climateworks Centre Indonesia. Keterlibatan koalisi organisasi mahasiswa dan komunitas dari Fakultas Biologi UGM seperti Keluarga Mahasiswa Pascasarjana Biologi, Kelompok Studi Kelautan, dan Arah Pangan Indonesia, membuktikan bahwa solusi adaptasi iklim dapat dimulai dari akar rumput.
Selama tiga hari penuh, peserta kamp aktif terlibat dalam interaksi langsung dengan masyarakat dan pemuda lokal. Mereka tidak sekadar mengamati, melainkan menyelami informasi mengenai lanskap alam dan sosial, mengidentifikasi peluang, serta merumuskan solusi berkelanjutan antargenerasi. Kamp ini tidak hanya sebuah pertemuan, melainkan laboratorium hidup di mana teori bertemu dengan praktik dan semangat kepemudaan menyatu dengan kearifan lokal.
Ketika Daratan Terkikis, Kehidupan Jadi Terancam: Potret Abrasi Pesisir Sidoharjo
Salah satu temuan yang mencolok adalah terjadinya perubahan yang signifikan pada lanskap alam dan sosial di wilayah pesisir. Masyarakat sekitar banyak bercerita mengenai garis pantai yang berubah, yang mengangam tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka. Data yang didapat menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan. Dalam 12 tahun terakhir, abrasi telah menggerus daratan sejauh 4 meter yang memaksa rumah penduduk harus mundur hingga mendekati jalan utama.
“Dulu pantai itu memanjang sampai ke sana 4 meter dari pos pantau ini. Nah ini dulunya masih rumah penduduk mas, tapi sekarang itu mundur kesana” tutur Prayogo selaku penjaga pantai Sundak.
Penggundulan pandan laut juga menjadi salah satu hal yang memperburuk keadaan. Abrasi yang terjadi bukan sekadar angka dalam data, melainkan bukti konkret dari krisis iklim yang mengancam kehidupan pesisir, memaksa masyarakat pesisir Sidoharjo untuk beradaptasi mencari penghidupan baru.
Harmonisasi Antara Nelayan dan Pariwisata: Dinamika Pesisir Sidoharjo

Keindahan dan ragam wisata kuliner di daerah Pesisir Sidoharjo
Wilayah pesisir menjadi arena yang sangat dinamis dan kompleks, menjadi tempat interaksi berbagai aktor dengan kepentingan yang berbeda dalam memanfaatkan sumber daya alam. Kelompok nelayan secara turun-temurun menggantungkan hidupnya pada laut, kini berdampingan dengan pelaku wisata seperti penyedia jeep, snorkeling, fotografer, hingga pekerja di restoran seafood semua berinteraksi dalam ruang kecil pesisir Sidoharjo.
Interaksi beragam antara berbagai aktor menciptakan kompleksitas tersendiri dalam pemanfaatan sumber daya, sehingga diperlukan pendekatan seimbang guna menjaga keadilan sosial dan ekologi wilayah pesisir guna memastikan setiap pihak mendapat manfaat yang adil tanpa merusak kelangsungan lingkungan, konsep kolaborasi multi-stakeholder menjadi suksesor utama dalam mencapai harmoni di Sidoharjo.
Harmonisasi Antara Nelayan dan Pariwisata: Dinamika Pesisir Sidoharjo

Kapal-kapal nelayan yang bersandar di daerah Pesisir Sidoharjo
Menariknya, di tengah ancaman lingkungan, kondisi ekosistem laut di beberapa titik pantai seperti di Pantai Sadranan menunjukkan keragaman biodiversitas sangat yang luar biasa menawan. Hasil observasi menyingkap keindahan menakjubkan ekosistem yang masih lestari lengkap dengan algae dan anemon yang tumbuh subur serta beragam spesies warna-warni hewan laut dapat ditemukan dengan mudah.
“Ini di Sadranan memang terumbu karangnya masih terjaga mas, Lebih bagus lagi yang sudah menjorok ke arah laut sana, yang tidak pernah tersentuh wisatawan” Tutur Kipuk selaku Nelayan di Pantai Sundak.
Keindahan bawah laut Sidoharjo tentu menjadi aset berharga yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai ekowisata berkelanjutan dan mendukung sektor perikanan yang bertanggung jawab, memastikan ketersediaan ikan bagi nelayan lokal, sehingga potensi ini mampu menjadi landasan dalam mengembangan ekonomi biru yang berbasis pada kelestarian alam.
Menyelami Potensi Pesisir Sidoharjo: Kesejahteraan Berbasis Pemuda dan Pangan Biru

Wawancara bersama Prayogo, Penjaga Pantai Sundak
Meski dalam bayang-bayang tantangan, kamp berhasil untuk memetakan potensi besar untuk mengembangkan kesejahteraan berbasis pemuda dan sumber daya alam pesisir. Misalnya, para nelayan yang memiliki potensi nilai jual hasil tangkapan melalui pengolahan dan diversifikasi produk melalui program desa prima yang dikelola pemuda, pengarahan petani pesisir agar dalam pertanian yang berinovasi dan mengandalkan komoditas tahan perubahan iklim dengan praktik bertani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Hal yang paling menginspirasi adalah melihat langsung aksi kolektif yang ditunjukkan oleh masyarakat, seperti ketika satu pantai ramai dengan wisatawan, masyarakat saling bertukar informasi dan mengarahkan wisatawan untuk meramaikan pantai lainnya, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak terfokus pada satu pantai saja.
“Misalnya di Sundak ini ramai, nanti petugas parkir mengarahkan ke Ngandong, atau ke Slili, jadi yang ramai dan ekonominya naik nggak cuma dari satu pantai ini saja” Tutur Prayogo selaku penjaga pantai Sundak.
Ini adalah bukti bahwa kearifan lokal di masyarakat mendukung keharmonisan sosial dan ketahanan ekonomi.
Sesuai tema utama, tentu fokus utama dalam kamp ini adalah blue food atau pangan biru. Dalam temuan dan diskusi, diketahui bahwa meskipun produk kelautan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir, namun ada temuan lain yakni masyarakat di wilayah teresterial (daratan) cenderung jarang mengonsumsi blue food.
“Kalau seperti Paman saya yang jadi Nelayan itu makan ikan bisa setiap hari, Mas. Tapi kalau Kami yang di Desa ini biasanya ayam, telur, tahu, dan sayurnya dari ladang.” Tutur Dini, pemuda Desa Sidoharjo ketika diwawancara
Hal ini dapat diartikan bahwa meskipun blue food menjadi sumber pangan lokal yang vital, peningkatan pemahaman secara menyeluruh tentang manfaat gizi dan potensi ekonomi bagi masyarakat di luar komunitas pesisir perlu dilakukan. Edukasi lebih lanjut dan tepat mengenai diversifikasi konsumsi dan inovasi dalam produk turunan blue food akan sangat menunjang jangkauan dan manfaat blue food itu sendiri.
Tantangan di Balik Potensi: Keterbatasan Pemuda dan Kapasitas Lokal
Namun, masih terdapat dua hambatan serius yang ditemukan, rendahnya partisipasi pemuda karena anggapan minimnya prospek di Sidoharjo yang seringkali membuat pemuda memilih untuk merantau ke kota, ini tentu menjadi ancaman serius dalam kepemimpinan dan pelestarian budaya desa di masa depan. Selain itu, minimnya pelatihan yang memadai untuk mendukung potensi yang ada, baik dari pemerintah maupun swasta menjadi persoalan di Sidoharjo.
“Kalau pelatihan dari desa itu diikuti mereka yang aktif di Desa Prima aja, Mas. kalau untuk secara semua warga desa nggak ada”
Masyarakat pesisir Sidoharjo memiliki keterampilan dan solidaritas yang luar biasa, namun akses mereka masih terbatas pada pengetahuan modern, teknologi, dan strategi pemasaran yang efektif guna meningkatkan nilai tambah dalam produk mereka. Ini menjadi celah besar yang sesegara mungkin diisi sehingga potensi blue food hadir dan dapat dimaksimalkan.
Temuan kamp juga menunjukkan adanya tantangan lain baik eksternal maupun internal yang dihadapi masyarakat Sidoharjo. Kehadiran investor yang seringkali abai dan tidak sesuai dengan prinsip berkelanjutan lingkungan dan sosial menjadi perhatian. Selain itu, merebaknya judi daring dan pinjaman bank plecit (rentenir ilegal) memperburuk kerentanan sosial ekonomi di tengah masyarakat.
Saran Konkret dari YLCCC Menuju Ketahanan Pesisir Sidoharjo
Temuan-temuan dari Youth Leadership Camp for Climate Crisis: Blue Food Camp mencerminkan pentingnya membuat langkah-langkah konkret dan terkoordinasi. Sangat penting bagi Desa Sidoharjo untuk memiliki pelatihan yang relevan dan berkelanjutan sebagai wadah peningkatan kapasitas masyarakat di wilayah pesisir, terlebih dalam pengelolaan sumber daya blue food yang lestari dan pengembangan kewirausahaan berbasis pemuda lokal. Penting juga untuk meningkatkan literasi keuangan guna melindungi masyarakat dari perangkap pinjaman ilegal dan dampak negatif judi daring.
Selain itu, yang tak kalah krusial adalah perlunya menghadirkan lingkungan yang menarik bagi pemuda agar termotivasi dalam membangun masa depan Desa Sidoharjo, menjadi agen perubahan yang berdaya saing dan dapat menjadi jawaban bagi krisis iklim. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi panduan berbagai pihak terkait dalam merumuskan kebijakan dan program efektif dalam mendukung ketahanan wilayah pesisir dan keherlanjutan sumber daya kelautan di Desa Sidoharjo.
