Membaca Politik Kemarahan Pemuda, SOREC dan Departemen Sosiologi UGM Gelar Kuliah Umum
18 September 2025
Tiga Buku Seri Kajian Petani Resmi Diluncurkan, Ben White dan Jun Borras Bahas Regenerasi Petani hingga Aktivisme Cendekia
5 Februari 2026

Membedah Politik Seksual serta Pelemahan Gerakan Perempuan di Indonesia

Social Research Center (SOREC) bersama dengan Departemen Sosiologi UGM, Forum Cik Di Tiro, dan Ruang Arsip & Sejarah Perempuan (RUAS) mengadakan diskusi publik bertajuk “Sexual Politics in Indonesia: Depolitisasi dan Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia”. Diskusi berlangsung pada Kamis, 15 Januari 2026 yang menghadirkan Saskia Wieringa (Guru Besar Emeritus Universiteit van Amsterdam), Ita Fatia Nadia (Ruang Arsip & Sejarah Perempuan Indonesia), dan Fina Itriyati (Dosen Sosiologi UGM) sebagai pembicara.

Diskusi ini diselenggarakan guna menjawab narasi subordinat perempuan yang hingga saat ini masih menjadi narasi mainstream sekaligus menjadi narasi tanding atas narasi tersebut. Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pemamparan materi oleh pembicara, dan diakhiri dengan sesi tanya jawab bersama dengan peserta.

Acara dibuka dengan pengantar oleh Kepala Departemen Sosiologi, Hakimul Ikhwan. Menurutnya, acara kali ini memiliki tema yang spesial yang membahas tema sexual politics yaitu bagaimana tantangan bagi gerakan perempuan saat ini bergeser menjadi lebih halus melalui moralitas publik, mengubah upaya gerakan perempuan lebih mudah dalam menghadapi tantangan kompleks.

Pembicara pertama, yaitu Saskia Wieringa membahas mengenai perjalanan depolitisasi perempuan dan gerakan perempuan di Indonesia melalui sejarah Bhayangkari sebagai perempuan militer yang mengalami depolitisasi sejak 1947. Menurutnya, pola pelemahan gerakan politik perempuan terus berulang. Saat ini, di dalam parlemen menunjukkan penurunan kualitas dalam menyuarakan isu ketidakadilan perempuan. Selain itu, ia juga menyinggung isu kesenjangan di sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, serta problem posisi politik perempuan di tengah krisis iklim dan perusakan lingkungan.

Pembicara kedua, yaitu Ita Fatia Nadia menguraikan mengenai wajah kejahatan politik yang terus-menerus menyasar seksualitas pikiran, dan imajinasi perempuan. Rezim saat ini menggunakan berbagai kebijakan represif dan patriarkis untuk mereproduksi dan menghidupi pola gerakan perempuan. Kemudian menciptakan normalisasi pembiaran terhadap kejahatan pada gerakan perempuan yang hingga saat ini masih diyakini terus berlanjut yang berubah menjadi lebih halus.

Pemaparan materi terakhir disajikan oleh Fina Itriyati yang membahas mengenai bagaimana mekanisme depolitisasi politik beroperasi, yang dapat berujung pada pelemahan gerakan perempuan. Menurutnya, hal ini berwujud dari pembiaran yang dilakukan oleh Negara dengan menerapkan pola-pola baru yang lebih halus dan berpotensi tidak disadari, khususnya oleh generasi muda. Gerakan digital menjadi kekuatan utama, menegaskan bahwa diperlukan platform politik feminis untuk memperkuat perlawanan terhadap rezim patriarkis.